[gambar menyusul tidak bisa upload – website error]

Ketika terjebak dalam situasi berbahaya, apapun akan dilakukan demi menyelamatkan diri. Seekor kadal, misalnya, nekat memutuskan ekornya sendiri. Sementara seorang manusia, bisa bertindak ‘ekstrim’ dengan menyeret pihak lain untuk menggantikan posisinya lewat sebuah penuturan yang bernada pembelaan diri.

Saya menjadikan review sebagai sebuah acuan sebelum memutuskan membeli/membaca sebuah buku. Sebab berbeda dengan film yang berdurasi 2-3 jam, sebuah buku membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk dikonsumsi. Saya bukan orang kaya, dan harta terbesar saya adalah waktu. Saya ‘ogah’ buang-buang harta untuk membaca buku yang menurut saya tidak penting untuk dibaca. Tapi sepertinya baru kali ini saya tergoda untuk membaca sebuah buku karena resensi terhadap buku tersebut mengandung “tuduhan” yang sangat serius: melanggar etika jurnalistik.

27 September 2013, tulisan seorang dosen dari Fakultas Ilmu Komunikasi Indonesia, DR Puspitasari diterbitkan oleh harian Suara Pembaruan. Beliau menulis resensi buku berjudul “Saksi Kunci” karya Metta Dharmasaputra, seorang jurnalis TEMPO. Nama DR Puspitasari membuat saya tertarik membaca resensi tersebut karena saya kenal beliau meski bukan secara personal, hanya hubungan akademis (beliau pernah jadi dosen saya).

Tokoh utama dalam buku ini adalah Vincentius Amin Sutanto, seorang group financial controller Asian Agri, yang mengaku diminta perusahaannya untuk merekayasa laporan proyek. Namun yang membuat saya bingung adalah, Vincent berniat membeberkan skandal manipulasi pajak tersebut (di mana menurut pengakuannya ia memang terlibat) setelah gagal membobol dana Asian Agri sebesar US$ 3,1 juta (hal 36-38) ke rekening pribadinya.

Belum ada 50 halaman (total ada 446 halaman), kita sudah disuguhi fakta: Vincentius Amin Sutanto bersalah. Mungkin dia ditekan oleh perusahaannya atau diiming-imingi komisi besar. Tapi terlepas dari semua itu, kenyataannya adalah dia melakukan hal yang salah: pelanggaran keuangan.

Selanjutnya buku ini mengajak pembaca bukan hanya memahami rangkaian peristiwa akan tetapi juga mengajak pembaca merasakan ketegangan yang terbangun. Masa-masa pelarian Vincent di Singapura dan ketika kembali ke Indonesia (bagian II dan III), konflik batin ketika Vincent terpikir untuk bunuh diri, istri dan anak-anaknya di¬intimidasi, dan lain-lain. Tentu saja, skandal penggelapan pajak yang dikatakan merugikan negara sampai Rp 1,3 triliun adalah satu hal yang penting. Bagaimana modus¬nya, siapa saja pelakunya, apakah sudah menjadi praktik yang lazim, dan sebagainya, merupakan deret pertanyaan yang menarik untuk didalami.

Namun saya sependapat dengan resensi dari DR Puspitasari: buku ini terasa janggal.

Pertama, sumber informasinya hanya satu: sang pelaku. Tentu saja hal ini menjadi berbahaya karena bisa saja Vincentius membelok-belokkan fakta demi meringankan peran dirinya agar peran perusahaan (Asian Agri) terasa lebih besar dan lebih bersalah. dibandingkan dirinya. Lagipula, sebagai Direktur Keuangan, Vincentius juga merupakan satu-satunya pemegang otoritas arus keluar masuk dana atau approval dana, sehingga tidak ada jaminan kebenaran atas pernyataan Vincentius yang mengatakan bahwa dirinya dipaksa oleh manajemen Asian Agri untuk memanipulasi pajak.

Di sinilah problem ‘etika jurnalistik’ dalam penulisan buku ini mulai muncul. Selain itu, Metta yang disebut sebut sebagai seorang jurnalis senior, tampak tidak mempertanyakan atau menelusuri situasi psikologis nara sumbernya.  Sebab untuk memvalidasi pernyataan Vincentius ini, sang penulis buku melakukan proses cek dan ricek lewat cara-cara “khusus” yang tidak murah. Metta Dharmasaputra (sang penulis) dalam melakukan investigasinya mengakui (tertulis dalam bukunya) bahwa investigasi ini didanai Rp 100 juta oleh Edwin Suryajaya. Kembali di sini terdapat pertanyaan apakah kualitas jurnalisme investigasi ditentukan oleh berapa dana yang dimiliki dan apakah ada penyandang dana untuk tugas investigasi tersebut.

Sebagai jurnalis kawakan dari media sebesar TEMPO, tentu Metta sadar bahwa saat investigasi Asian Agri berlangsung, Edwin Suryajaya sedang bersengketa saham Adaro dengan Sukanto Tanoto. Sehingga menerima dana Rp 100 juta dari Edwin Suryajaya untuk membongkar kasus Asian Agri, berpeluang mengandung benturan kepentingan. Apakah Metta tidak sadar kalau dirinya ditunggangi oleh Edwin? Terlalu sederhana untuk dijawab hanya dengan sebuah “donasi” dan kemurahan hati.

Saya rasa sebagai jurnalis kawakan, Metta pasti menyadari kalau dirinya ditunggangi. Saya justru lebih percaya Metta menyadari dirinya ditunggangi dan senang menerima uang dari Edwin serta memang ikut serta dalam konspirasi bisnis menjatuhkan raksasa bisnis Sukanto Tanoto. Ini sekedar pendapat saya, bukan membela Sukanto Tanoto soal kasus ini.

Sama seperti opini DR Puspitasari dalam resensinya: “Jika seluruh proses didedikasikan hanya karena alasan demi kepentingan publik, pendefinisian tentang ‘kepentingan publik’ justru dapat membuat jurnalis dihadapkan pada potensi pelanggaran etika jurnalistik, terutama dalam konteks hadirnya konflik ke-pentingan dan agenda terselubung di balik perolehan data atas nama ‘kebenaran’. Siapa publik yang dimaksudkan di sini, dan publik yang (ada di pihak) mana? Kebenaran versi siapa?

Membaca buku ini cukup membuat saya merasa buang-buang waktu saja. Tapi tidak terlalu rugi juga, setidaknya saya jadi tahu ada beberapa manusia yang bersedia menghalalkan segala cara demi menyelamatkan dirinya.

 [gambar menyusul tidak bisa diupload – website error]

Tulisan IKlan Yang Melanggar Kode Etis:

Banyak sekali iklan di Indonesia yang melanggar etika periklanan baik iklan media cetak maupun elektronik. Berikut ini beberapa contoh iklan yang tidak etis dan melanggar etika periklanan, yaitu:

  1. Iklan Provider XL (Menggunakan KataTERMURAH)

Analisis:

Seharusnya iklan ini tidak menggunakan kata TERMURAH, karena kata-kata yang berawalan “Ter, Paling, nomer satu, top” ini melanggar tata karna isi iklan dalam bentuk bahasa dan bisa berpreseden fitnah terhadap produk yang lain.

Selain itu pada iklan XL ini mereka memakai kata “GRATIS” yang berkonotasi tanpa bayar, karena kata gratis tersebut ternyata menipu konsumen karenaternyata konsumen harus membayar biaya-biaya yang lain.

  1. Iklan Shampo Clear (Memakai Kata No. 1)

Analisis:

Iklan ini pernah ditemukan di beberapa jalan protokol pada beberapa waktu yang lalu. Iklan ini tidak etis dan melanggar tatakrama periklanan karena memakai kata NO. 1, dalam Tata krama isi iklan, kata NO.1 melanggar aturan “bahasa” karena produk yang lain dianggap no 2 dan sterusnya.

  1. Iklan televisi NANO-NANO NOUGAT versi “Suster ngesot & Satpam”

Analisis:

Iklan ini melanggar etika periklanan karena isi iklannya dapat menimbulkan “rasa takut dan tahayul” dengan adanya sesosok makhluk gaib (suster ngesot) yang ngesot di sebuah ruangan gelap, serta music yang menyeramkan sebagai backsound. Padahal masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang religious.

  1. Alat Kontrasepsi Andalan dan Layanan Kesehatan Seksual On Clinic

Analisis:

Iklan tersebut sering ditayangkan di stasiun TV pada jam-jam tayang siang dan sore hari, padahal pada jam-jam tayang tersebut masih banyak anak-anak yang nonton televise, sehingga saya sependapat dengan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang telah memvonis iklan ini karena sangat kuat materi dewasanya dan tidak pantas ditaruh di jam siang dan sore hari. Setiap iklan bebas memilih jam tayang sesuai keinginannya. Namun bagi iklan yang mengandung unsur dewasa termasuk iklan rokok harus ditayangkan malam hari waktu anak-anak sudah tidur.

  1. Pompa Air Shimizu

Analisis:

Iklan pompa air sarat dengan unsur SARA yang melanggar norma kesopanan, karena dalam iklan tersebut terdapat adegan seorang wanita yang mencari obat kuat, namun dia ditawari pompa air. Kemudian dengan wajah yang menggoda si wanita tadi disirami air oleh pasangannya. Dikhawatirkan iklan tersebut akan berdampak kepada para penonton khususnya anak-anak dan remaja yang akan berpikiran kotor setelah melihat tayangan ini. Iklan sejenis ini juga terdapat dalam beberapa iklan lain yaitu iklan “Segar Sari Susu Soda” yang dibintangi oleh Jupe.

  1. Iklan Buavita “100% Juice”

Analisis:

Iklan Buavita ini juga mempunyai potensi melanggar kode etis periklanan karena dengan menampilkan klaim “100% Apple Juice” (dan versi-versi lainnya yang sejenis/senada) sehingga akan cenderung dapat menipu para pemirsa televisi dengan mengklaim 100% yang kenyataanya sangat relative dan tentu ada campuran airnya.

  1. Mie Sedaap Ayam Spesial versi NTT

Analisis:

Iklan ini seperti kita ketahui menerima banyak protes karena ada adegan yang melecehkan seorang guru. Menurutnya guru adalah seorang pelita hati di kala kegelapan, kenapa harus dihina oleh ayam yang lewat di kepalanya? Pihak iklan sebenarnya hanya ingin membuat iklan yang unik tapi justru kebablasan.

  1. Deodoran AXE versi Malaikat Jatuh

Analisis:

Iklan ini dapat menimbulakan ketersinggungan akibat SARA karena dalam iklan tersebut seolah-olah terdapat sugesti bahwa utusan Tuhan secara harafiah bisa jatuh demi seorang pria hanya karena aroma deodoran pria tersebut. Sehingga wajar kalau iklan tersebut yang sudah disebarluaskan ke penjuru dunia, termasuk ditayangkan di jaringan televisi Afrika Selatan telah menjadi sebuah subyek penyelidikan Otoritas Standar Periklanan (ASA) Afrika Selatan menyusul keluhan dari seorang penganut Kristen. Dalam keputusannya ASA mengatakan, penggambaran tentang malaikat yang kehilangan kesalehannya bisa membuat marah orang-orang Kristen. Di Indonesia iklan ini yang memakai tagline “Wangi seksinya bikin bidadari lupa diri”, juga tidak etis dan melanggar norma karena dikhawatirkan para penonton khususnya anak-anak dan remaja berpikiran kotor setelah melihat tayangan ini.

  1. Sosis So Nice Versi JMS

Analisis:

Iklan So Nice selalu meng up to date dengan mengganti model iklannya dengan bintang atau artis yang sedang tenar waktu itu. Untuk iklan So Nice dengan tagline “JMS, Juara Makan So Nice”, dan parahnya lagi si atlet berkata, “Ingin jadi juara seperti kita? Makan So Nice”. Menurut saya iklan ini menggunakan bahasa yang kurang etis dan dapat memprovokasi masyarakat dan kurang bertanggungjawab, sebab Jika ada penonton yang makan So Nice banyak lalu tidak menjadi juara lantas siapa yang akan ber tanggung jawab. Dan saya yakin pihak produsen juga akan lepas tanggan.

[sampul menyusul – website error]

Pengambilan Keputusan yang Etis : Tanggung Jawab Pemberi kerja dan Hak Karyawan

Etika di dalam konteks pekerjaan mungkin merupakan topic yang paling universal dalam etika bisnis karena hampir setiap orang memiliki pengalaman menjadi pekerja. Saat pembuat UU dan pengadilan telah mengatur banyak aspek di lingkungan kerja, isu – isu yang tak terhitung jumlahnya masih belum terpecahkan oleh badan – badan regulator dan yudisial ini.

                Bab ini mengeksplorasi wilayah pengambilan keputusan etis di tempat kerja di mana hokum tetap relative cair di mana hasilnya tidak mudah diselesaikan hanya dengan menyerahkannya kepada pengacara perusahaan. Kita akan meninjau berbagai macam tantangan etis yang dihadapi oleh karyawan, baik seorang pekerja pada lini perakitan, manajer sebuah restoran, maupun CEO di sebuah perusahaan besar, dan sifat dari tanggung jawab pemberi kerja.

Isu – isu Etis di Tempat Kerja      : Lingkungan Saat Ini

                Penelitian membuktikan bahwa “perusahaan yang menempatkan karyawan pada inti dari strateginya menghasilkan pengembalian jangka panjang yang lebih tinggi bagi para pemegang saham ketimbang perusahaan lainnya dalam industry yang sama”.

Observasi ini akan memfokuskan pada fakta bahwa ada dua perspektif yang sangat jelas, dan kadang – kadang bertentangan, mengenai etika dari hubungan di tempat kerja. Di satu pihak, pemberi kerja dapat memutuskan untuk memperlakukan karyawan dengan baik sebagai alat untuk menghasilkan harmoni dan produktivitas yang lebih besar dari tempat kerja.

Mendefinisikan Parameter dari Hubungan Kerja

                “Pekerjaan” itu sendiri, mengimplikasikan isu etis karena implikasi dari sifat dasar hubungan itu sendiri. Pertimbangan situasi di mana seorang individu setuju untuk bekerja bagi individu lainnya. Pengaturan ini menciptakan isu kekuasaan, kewajiban, tanggungjawab, perlakuan yang adil, dan harapan.

Due Process dan Penyebab yang Sah

Secara filosofis, due process (hak untuk memperoleh proses pengadilan yang wajar) merupakan hak untuk dilindungi dan penyalahgunaan wewenang. Pada konteks legal, due process mengacu pada proses yang harus diikuti oleh polisi dan pengadilan dalam menjalankan wewenangnya kepada warga Negara.

Secara serupa due process di tempat kerja mengakui wewenang pemberi kerja terhadap karyawannya. Pemberi kerja dapat memberitahu karyawan apa yang harus mereka lakukan dan kapan serta bagaimana melakukannya. Pemberi kerja dapat melaksanakan kendali seperti itu karena pemberi kerja memiliki kemampuan untuk mendisiplinkan atau memecat seorang karyawan yang tidka patuh terhadap wewenangnya.

 

PT. SEMEN INDONESIA, Tbk.

Profil Perusahaan

Perusahaan diresmikan di Gresik pada tanggal 7 Agustus 1957 oleh Presiden RI pertama dengan kapasitas terpasang 250.000 ton semen per tahun, dan di tahun 2013 kapasitas terpasang mencapai 30 juta ton/tahun.

Pada tanggal 8 Juli 1991 saham Perseroan tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa EfekSurabaya (kini menjadi Bursa Efek Indonesia) serta merupakan BUMN pertama yang go public dengan menjual 40 juta lembar saham kepada masyarakat. Komposisi pemegang saham pada saat itu: Negara RI 73% dan masyarakat 27%.

Pada bulan September 1995, Perseroan melakukan Penawaran Umum Terbatas I (Right Issue I), yang mengubah komposisi kepemilikan saham menjadi Negara RI 65% dan masyarakat 35%. Pada tanggal 15 September 1995 PT Semen Gresik berkonsolidasi dengan PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa.Total kapasitas terpasang Perseroan saat itu sebesar 8,5 juta ton semen per tahun.

Pada tanggal 17 September 1998, Negara RI melepas kepemilikan sahamnya di Perseroan sebesar 14% melalui penawaran terbuka yang dimenangkan oleh Cemex S. A. de C. V., perusahaan semen global yang berpusat di Meksiko. Komposisi kepemilikan saham berubah menjadi Negara RI 51%, masyarakat 35%, dan Cemex 14%. Kemudian tanggal 30 September 1999 komposisi kepemilikan saham berubah menjadi: Pemerintah Republik Indonesia 51,0%, masyarakat 23,4% dan Cemex 25,5%.

Pada tanggal 27 Juli 2006 terjadi transaksi penjualan saham Cemex Asia Holdings Ltd. kepadaBlue Valley Holdings PTE Ltd. sehingga komposisi kepemilikan saham berubah menjadi Negara RI 51,0% Blue Valley Holdings PTE Ltd. 24,9%, dan masyarakat 24,0%. Pada akhir Maret 2010, Blue Valley Holdings PTELtd, menjual seluruh sahamnya melalui Private Placement, sehingga komposisi pemegang saham Perseroan berubah menjadi Pemerintah 51,0% dan publik 48,9%.

Tanggal 18 Desember 2012 adalah momentum bersejarah ketika Perseroan melakukan penandatanganan transaksi final akuisisi 70 persen saham Thang Long Cement, perusahaan semen terkemuka Vietnam yang memiliki kapasitas produksi 2,3 juta ton/tahun. Akuisisi Thang Long Cement Company ini sekaligus menjadikan Perseroan sebagai BUMN pertama yang berstatus Multi National Corporation. Sekaligus mengukuhkan posisi Perseroan sebagai perusahaan semen terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas sampai tahun 2013 sebesar 30 juta ton per tahun

  • Menyelesaikan pembangunan unit pabrik semen
  • Akuisisi Thang Long Cement Joint Stock Company (TLCC), di Vietnam.
  • Menjadi Strategic Holding Company dan merubah nama menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

VISI MISI PERUSAHAAN

VISI

Menjadi perusahaan persemenan terkemuka di Indonesia dan Asia  Tenggara

MISI

  1. Memproduksi, memperdagangkan semen dan produk terkait lainnya yang berorientasikan kepuasan konsumen dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan.
  2. Mewujudkan manajemen berstandar internasional dengan menjunjung tinggi etika bisnis dan semangat kebersamaan dan inovatif.
  3. Meningkatkan keunggulan bersaing di domestic dan internasional.
  4. Memberdayakan dan mensinergikan sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan nilai tambah secara berkesinambungan.
  5. Memberikan kontribusi dalam peningkatan para pemangku kepentingan (stakeholders).

TUJUAN

Sejalan dengan visi dan misi perusahaan, Perseroan berkomitmen untuk menjadikan GCG sebagai budaya dalam mengelola perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Perseroan menetapkan misi GCG sebagai berikut:

  • Mewujudkan tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan.
  • Mewujudkan pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ perusahaan, yaitu Rapat Umum Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi.
  • Mewujudkan seluruh organ perusahaan dalam pengambilan keputusan senantiasa dilandasi oleh nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

 ANALISA SWOT

Strenght (Kekuatan)
Nilai Bobot Rating Skor
1. PT. semen Indonesia merupakan perusahaan milik negara (BUMN) dan sudah go public. PT. Semen Indonesia adalah BUMN pertama yang menjual sahamnya ke masyarakat. 4 0,190476 4 0,761905
2. Lokasi pabrik sangat strategis memberikan keunggulan yang kompetitif dan komperatif dalam manajemen biaya kontribusi dan kontiyuitas pasokan. 3 0,142857 4 0,571429
3. Memiliki sumberdaya yang berkualitas, yang memiliki kompetensi di bidang perekayasaan teknis dan jasa konsultasi dalam persemenan serta industri – industri yang terkait 3 0,142857 3 0,428571
4. Memiliki jangkauan distribusi yang sangat luas dan memiliki keunggulan distribusi yang didukung oleh 19 unit gudang penyangga di sejumlah wilayah strategis di Jawa dan Bali 4 0,190476 4 0,761905
5. Sarana pemasaran yang menyeluruh ke berbagai media. 3 0,142857 3 0,428571
6. Memiliki sumber dana dari pemerintah Republik Indonesia 4 0,190476 4 0,761905
Jumlah 21 1 22 3,714286
Weakness (Kelemahan)
1. Kebijakan harga masih bergantung pada brain, dimana selalu ada penentuan harga setiap hari 3 0,6 2 1,2
2. Daerah pemasaran belum mencapai seluruh Indonesia 2 0,4 2 0,8
Jumlah 5 1 4 2
Oppotunity (Peluang)
1. Rencana membangun pabrik baru untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan semen nasional dan untuk mempertahankan pangsa pasar karena perseroan telah memaksimalkan utilasi pabriknya 4 0,210526 4 0,842105
2. Merencanakan pembangunan pembangkit listrik untuk mensuplai kebutuhan listrik di pabrik semen dengan harga yang lebih murah dari PLN sehingga bisa menekan biaya produksi kompetitif semen gresik. 4 0,210526 4 0,842105
3. Jumlah penduduk yang meningkat secara tidak langsung meningkatkan permintaan konsumen terhadap kebutuhan hidupnya atas suatu produk 4 0,210526 3 0,631579
4. Perkembangan teknologi yang semakin canggih meemnuhi kebutuhan manusia secara maksimal sehingga dalam pengelolaan bahan baku membuat kuantitas produksi lebihh tinggi dan mutu lebih baik 4 0,210526 3 0,631579
5. Segmen pasar dari berbagai kalangan dan golongan 3 0,157895 3 0,473684
Jumlah 19 1 17 3,421053
Threat (Ancaman)
1. Perkembangan ekonomi Indonesia mulai membaik dari tahun ke tahun yang tentunya akan berpengaruh pada perusahaan 4 0,25 3 0,75
2. Perkembangan politik yang tidak stabil dapat menyebabkan berkurangnya investor asing yang akan menanamkan modalnya sehingga kepercayaan mereka hilang untuk bekerjasama dengan Indonesia 4 0,25 3 0,75
3. Suplai bahan baku batu kapur dari alam yang terbatas sangat berpengaruh terhadap pemenuhan bahan baku di dalam kegiatan produksi perusahaan 4 0,25 3 0,75
4. Banyaknya pesaing 4 0,25 4 1
Jumlah 16 1 13 3,25

Dari hasil faktor eksternal dan internal di atas maka bisa didapatkan hasil sebagai berikut:

Skor Strengh 3,714286
Skor weakness 2
Skor Opportunity 3,421053
Skor Threat 3,25

Mengacu pada skor total tersebut di atas, maka penentuan posisi perusahaan dapat digambar sebagai Matrik SWOT yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

GBR2

Selain itu, penentuan koordinat dari gambar di atas adalah sebagai berikut           :

Koordinat Analisis Internal           = (Skor total Kekuatan – Skor total kelemahan)

                                                     =3,714286 – 2

                                                     =1,714286

Koordinat Analisis eksternal        = (Skor Peluang – Skor Ancaman)

                                                     = 3,421053 – 3,25

                                                     =0,171053

Titik Koordinat terletak pada (1,714286 ; 0,171053)

Berdasarkan gambar tersebut di atas, maka diketahui posisi PT. Semen Indonesia terletak pada kuadran I namun perlu diadakan penyempurnaan analisis dengan menghitung luasan wilayah pada tiap-tiap kuadran. Hasil perhitungan dari masing-masing kuadran dapat digambarkan pada tabel berikut di bawah ini :

Kuadran Posisi Titik Luas Matriks Ranking Prioritas Strategi
I (SO) 3,714285714 3,421052632 12,70676692 1 Growth
II (WO) 2 3,421052632 6,842105263 3 Stabilitas
III (WT) 2 3,25 6,5 4 Penciutan
IV (ST) 3,714285714 3,25 12,07142857 2 Kombinasi

Berdasar tabel tersebut di atas, maka diperoleh ranking luas matrik kuadran sebagai berikut :

  1. Ranking ke 1       : pada kuadran I dengan luas matrik 12,70676692
  2. Ranking ke 2       : pada kuadran IV dengan luas matrik 12,07142857
  3. Ranking ke 3       : pada kuadran II dengan luas matrik 6,842105263
  4. Ranking ke 4       : pada kuadran III dengan luas matrik 6,5

Dengan memiliki keunggulan pada kuadran I (S O strategi), maka PT. Semen Indonesia, tbk memiliki kekuatan sebagai dasar untuk mendapatkan peluang berkembang sebagai Perusahaan Semen Terbaik di Indonesia

Referensi            :

  1. Website Resmi PT. Semen indonesia, tbk